Tampilkan postingan dengan label ISU-ISU HANGAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISU-ISU HANGAT. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 Mei 2012
KETIKA PEMIMPIN NEGERI SUDAH PIKUN
Ketika mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin negeri, sang calon pemimpin menjanjikan akan menumpas korupsi, menegakkan hukum dan menghapuskan kemiskinan di negeri ini. Bagaimana gagahnya ketika sang pemimpin menjanjikan akan menjadi panglima perang melawan korupsi dan akan selalu berdiri digarda terdepan dalam memberantas korupsi. Namun pada kenyataannya organisasi yang didirikan dan dipergunakan sebagai kendaraan meraih jabatan dipenuhi oleh para koruptor muda yang brilyan dan buas.
Media cetak selama beberapa hari terakhir mengupas habis-habisan kebobrokan moral para birokrat negeri ini, bagaimana rakusnya para birokrat menggerogoti uang negara. Dari satu sisi perjalanan dinas saja para birokrat telah melahap puluhan trilyun rupiah dan masuk ke dalam perut mereka, maka dapat dipastikan dari sisi yang lain semakin banyak rupiah yang membusuk dalam perut para birokrat. Lihatlah penampilan mereka yang tetap tersenyum dan mengenakan pakaian religius pada acara-acara tertentu, menggambarkan betapa tebalnya kulit muka mereka. Ancaman api neraka yang difirmankan oleh Allah swt bagi para pelaku koruptor, dianggap angin lalu yang kepastiannya diragukan.
Para birokrat yang beragama Islam menutup mata dan hatinya terhadap contoh-contoh Nabi Muhammad saw ketika menjadi pemimpin negeri yang besar, beliau tetap hidup sangat sederhana, bahkan ketika beliau meninggal, baju perangnya masih tergadai pada seorang yahudi. Bukan hanya Nabi Muhammad saw yang memberikan suri teladan mulia, namun para sahabat seperti Abu Bakar r.a, Umar bin Kathab r.a, Utsman r.a. dan Ali bin Abi Thalib r.a.mereka tetap hidup sederhana ketika mereka menjabat sebagai Khalifah.
Para pemimpin negeri yang mayoritas beragama Islam telah mengingkari tuntunan hidup yang dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw dan para sahabat tsb. Para pemimpin negeri ini hidup bergelimang kemewahan, berfoya-foya dalam menyelenggarakan pesta pernikahan, meskipun mereka menyadari bahwa penduduk ini masih banyak yang hidup dalam kemiskinan. Jika Umar bin Khatab bersedia menggendong sekarung gandum untuk diberikan pada rakyatnya yang miskin sebagai bentuk pemimpin yang menjunjung tinggi amanah, maka para pemimpin ini justru berlomba-lomba membeli mobil super mewah untuk kendaraan dinasnya. Ketika Khalifah Umar bin Abdul Azis menyerahkan seluruh hartanya pada negara ketika dibaiat sebagai khalifah, maka para pemimpin negeri ini justru beramai-ramai mengambil uang negara. Sama-sama beragama Islam namun perilaku hidupnya sangat bertolak belakang. Disatu pihak berusaha mendekatkan diri pada Allah swt dalam mengemban tugas sebagai Khalifah, sementara di pihak lain lebih mendekatkan diri pada iblis dalam memimpin sebuah negeri.
Para pemimpin negeri ini tidak merasa malu dengan para pemimpin negeri tetangga yang berusaha keras memberikan suri teladan dalam kesederhanaan hidup. Mereka hanya mempergunakan mobil-mobil sederhana produk negerinya sendiri, sementara para pemimpin negeri ini bangga membeli mobil mewah dengan memakai uang rakyat.
Nafsu serakah yang mendapat dukungan para iblis telah merasuk sukma para birokrat bahkan menyelusup masuk dengan mudah pada jiwa, raga dan darah pasangan hidup dan keturunan mereka. Dengan demikian para birokrat telah sukses dalam membangun keluarga yang penuh kemaksiatan, melahirkan generasi koruptor yang canggih dari rahim isteri-isteri mereka atau dari para perempuan yang mereka selingkuhi.
Koruptor terus berkembang biak dengan sempurna, karena para pemimpin yang beragama Islam telah melalaikan ajaran agama Islam yang sangat mulia. Bahkan partai yang memproklamirkan diri sebagai partai islam tidak lepas dari isu korupsi dan perzinaan, harta dan perempuan.
Oleh sebab itu sangatlah pas ketika ada seorang pemimpin agama yang menyatakan bahwa inilah negeri garong, negeri dodor, sebuah negeri yang bergelimang dengan kemaksiatan seperti korupsi, perzinaan, penipuan, kebohongan dan ketidakpedulian.
Wahai para pemimpin jangan sombong dengan kekuasaan yang anda pegang, karena semua itu tidak ada manfaatnya ketika anda semua menghadapi sidang peradilan di akhirat nanti. Tunggulah.........................
Senin, 16 Januari 2012
Pancasila di Negara Garong
"Negara Garong" adalah istilah negara yang dipopulerkan oleh Buya ASM. Sementara butir-butir Pancasila dibawah ini dipopulerkan oleh dosen filsafat UI TFA sangat pas dipadupadankan. Coba simak butir-butir Pancasila di bawah ini:
1. Keuangan Yang Maha Kuasa
2. Korupsi yang adil dan merata
3. Persatuan Mafia Hukum Indonesia
4. Kekuasaan yang dipimpin oleh nafsu kebejatan dan kepura-puraan
5. Kenyamanan sosial bagi seluruh pejabat dan wakil rakyat.
Lihatlah kemewahan hidup yang dipamerkan oleh seluruh pemimpin negeri garong. Bandingkan dengan kesedehanaan penampilan dari para pemimpin negara besar seperti India dan Malaysia. Para pemimpin kedua negeri tersebut menggunakan kendaraan dinas produk negara sendiri misalnya Malaysia, Perdana Menterinya mempergunakan mobil produksi sendiri yang berharga tidak lebih 200 juta rupiah sementara PM India juga mempergunakan mobil produksi negeri sendiri yang berharga kurang lebih 150 juta. Tidak kalah sederhananya adalah Presiden Iran. Tetap tinggal dirumah sederhananya dengan kendaraan tua yang menemaninya dalam perjalanan dinas sehari-hari. Negara mereka memiliki kendaraan mewah yang hanya dipergunakan jika ada tamu negara yang datang. Lihat Presiden, wakil presiden dan para menteri di negara garong yang dalam kesehariannya mempergunakan mobil mewah seharga paling murah 1 milyar rupiah. Wakil rakyat negeri garong juga tidak kalah dalam adu kemewahan.Bahkan mobil para pengawal dan pengiringnya jauh lebih mewah dari mobil kepala negara ke 3 negara tersebut. Mereka menutup mata dan telinga terhadap rakyat yang merintih kelaparan dan kemiskinan yang menggurita kehidupan mereka.
Nurani mereka sudah ditutup oleh Yang Maha Kuasa, karena mereka sudah melawan perintah-Nya. Setan telah menjadi sahabat karib mereka, karena setan dianggap telah memberikan kemewahan hidup yang memang nikmat rasanya dalam kehidupan di dunia. Mereka tidak berani menjauh dari setan, karena dengan menceraikan setan maka mereka juga akan jauh dari segala kenikmatan dunia yang telah mengaliri seluruh darah dan sumsum mereka. Saat ini mereka memiliki semuanya. Harta yang tidak habis tujuh turunan, kekuasaan tanpa batas sehingga dengan mudah menindas rakyat, dan wanita dari berbagai jenis tersedia, mau yang putih, kuning, hitam ataupun belang-belang akan tersaji dengan cepat.
Oleh sebab itu rakyat negeri garong harus memahami kenapa mereka tetap iskin dan terabaikan, karena para pemimpin tersebut adalah hasil pilihan rakyat sendiri. Menurut Ali bin Abi Thalib r.a. jika sebuah urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya maka kehancuran adalah sebuah keniscayaan.
1. Keuangan Yang Maha Kuasa
2. Korupsi yang adil dan merata
3. Persatuan Mafia Hukum Indonesia
4. Kekuasaan yang dipimpin oleh nafsu kebejatan dan kepura-puraan
5. Kenyamanan sosial bagi seluruh pejabat dan wakil rakyat.
Lihatlah kemewahan hidup yang dipamerkan oleh seluruh pemimpin negeri garong. Bandingkan dengan kesedehanaan penampilan dari para pemimpin negara besar seperti India dan Malaysia. Para pemimpin kedua negeri tersebut menggunakan kendaraan dinas produk negara sendiri misalnya Malaysia, Perdana Menterinya mempergunakan mobil produksi sendiri yang berharga tidak lebih 200 juta rupiah sementara PM India juga mempergunakan mobil produksi negeri sendiri yang berharga kurang lebih 150 juta. Tidak kalah sederhananya adalah Presiden Iran. Tetap tinggal dirumah sederhananya dengan kendaraan tua yang menemaninya dalam perjalanan dinas sehari-hari. Negara mereka memiliki kendaraan mewah yang hanya dipergunakan jika ada tamu negara yang datang. Lihat Presiden, wakil presiden dan para menteri di negara garong yang dalam kesehariannya mempergunakan mobil mewah seharga paling murah 1 milyar rupiah. Wakil rakyat negeri garong juga tidak kalah dalam adu kemewahan.Bahkan mobil para pengawal dan pengiringnya jauh lebih mewah dari mobil kepala negara ke 3 negara tersebut. Mereka menutup mata dan telinga terhadap rakyat yang merintih kelaparan dan kemiskinan yang menggurita kehidupan mereka.
Nurani mereka sudah ditutup oleh Yang Maha Kuasa, karena mereka sudah melawan perintah-Nya. Setan telah menjadi sahabat karib mereka, karena setan dianggap telah memberikan kemewahan hidup yang memang nikmat rasanya dalam kehidupan di dunia. Mereka tidak berani menjauh dari setan, karena dengan menceraikan setan maka mereka juga akan jauh dari segala kenikmatan dunia yang telah mengaliri seluruh darah dan sumsum mereka. Saat ini mereka memiliki semuanya. Harta yang tidak habis tujuh turunan, kekuasaan tanpa batas sehingga dengan mudah menindas rakyat, dan wanita dari berbagai jenis tersedia, mau yang putih, kuning, hitam ataupun belang-belang akan tersaji dengan cepat.
Oleh sebab itu rakyat negeri garong harus memahami kenapa mereka tetap iskin dan terabaikan, karena para pemimpin tersebut adalah hasil pilihan rakyat sendiri. Menurut Ali bin Abi Thalib r.a. jika sebuah urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya maka kehancuran adalah sebuah keniscayaan.
Minggu, 15 Januari 2012
Negara Dodor: Fakta dan Realita.
Judul tulisan tersebut saya ambil dari Komik Panji Koming yang terbit secara rutin di harian Kompas Minggu, khususnya hari ini Minggu tanggal 15 Januari 2011.
Edan memang, negeri yang kaya raya seperti Indonesia ini, dipimpin oleh Jenderal bintang 4 yang tinggi besar dan berpendidikan Doktor serta memiliki wakil yang yang bergelar lebih bergengsi yaitu profesor namun wabah korupsi menyebar dengan ganas, pembunuhan rakyat jelata berlangsung bak di negeri bar-bar, lihatlah kasus Mesuji dan Bima, belum kasus-kasus lain yang tidak ter-ekpose oleh media. Tanah negara dijarah oleh para pengusaha besar yang berkolaborasi dengan para penguasa, hutan dirusak dan dibabat dengan ganas oleh pengusaha hitam dengan dibeckingi oleh oknum aparat keamanan. Satwa penghuni hutan dibantai dengan keji yang dilakukan oleh karyawan dan orang bayaran perusahaan asing (media memberitakan pembantaian binatang yang dilindungi oleh perusahaan kelapa sawit. Rakyat jelata dan binatang yang sama-sama makhluk ciptaan Allah swt tidak diberi kesempatan hidup dengan damai.
Edan memang. Panji Koming bulan lalu juga ngedumel bahwa ada anak pejabat yang belum lama lulus kuliah bisa membeli rumah cantik di Jakarta Pusat yang "konon kabarnya" berharga 17 Milyar rupiah, sementara bapaknya hanya memiliki kekayaan 9 milyar rupiah.
Edan memang. Para pimpinan partai Islam setelah masuk ke Senayan, ramai-ramai kawin lagi dan lebih edan ketika yang dikawini adalah eks "PSK" dari negeri "Eks Rusia". Mereka berharap jika kawin dengan bule mereka bisa punya anak cantik (indo) karena wajah bapaknya yang tidak akan "laku" jika tidak punya uang dan jabatan. Mereka tidak bersyukur memiliki wajah jelek (sama seperti penulis), karena dengan wajah seperti itu mereka lebih terjaga dari perbuatan maksiat dimasa muda.
Edan memang. Para ustad yang masuk senayan lupa dengan amanat yang diembannya, mereka justru sibuk dengan "wanita murahan" dan meninggalkan ladang dakwah yang berpuluh-puluh tahun dijalankan dengan penuh amanah. Mereka kalah dalam melawan cobaan nikmat yang diberikan Allah swt dan tertipu dengan kenikmatan dunia yang memang nikmat.
Edan memang. Ternyata elit partai Islam tidak kalah ganas dalam mendukung koruptor dengan terus berupaya mendesak dan membubarkan KPK. Nyatanya sama saja partai Islam dengan partainya kaum kafir sama-sama buas terhadap harta, kekuasaan dan perempuan.
Edan memang. Sandal jepit dan pisang mentah bisa membuat anak umur 16 tahun digebukin oknum polisi, pemuda cacat mental masuk penjara, remaja kakak beradik mati tergantung di tahanan polisi.
Inilah negeri dodor, negeri yang berjalan sendiri tanpa pengemudi (autopilot)dimana para elit negeri sibuk berburu harta, berebut kuasa dan menikmati wanita dan tidak peduli dengan rusaknya negeri dan penderitaan anak negeri sendiri. Mereka rukun dalam korupsi, saling melindungi dan sepakat untuk tidak peduli terhadap amanah yang diembannya. Mereka lupa diri untuk berbakti pada ibu pertiwi. Alangkah malangnya negeri ini.
Edan memang, negeri yang kaya raya seperti Indonesia ini, dipimpin oleh Jenderal bintang 4 yang tinggi besar dan berpendidikan Doktor serta memiliki wakil yang yang bergelar lebih bergengsi yaitu profesor namun wabah korupsi menyebar dengan ganas, pembunuhan rakyat jelata berlangsung bak di negeri bar-bar, lihatlah kasus Mesuji dan Bima, belum kasus-kasus lain yang tidak ter-ekpose oleh media. Tanah negara dijarah oleh para pengusaha besar yang berkolaborasi dengan para penguasa, hutan dirusak dan dibabat dengan ganas oleh pengusaha hitam dengan dibeckingi oleh oknum aparat keamanan. Satwa penghuni hutan dibantai dengan keji yang dilakukan oleh karyawan dan orang bayaran perusahaan asing (media memberitakan pembantaian binatang yang dilindungi oleh perusahaan kelapa sawit. Rakyat jelata dan binatang yang sama-sama makhluk ciptaan Allah swt tidak diberi kesempatan hidup dengan damai.
Edan memang. Panji Koming bulan lalu juga ngedumel bahwa ada anak pejabat yang belum lama lulus kuliah bisa membeli rumah cantik di Jakarta Pusat yang "konon kabarnya" berharga 17 Milyar rupiah, sementara bapaknya hanya memiliki kekayaan 9 milyar rupiah.
Edan memang. Para pimpinan partai Islam setelah masuk ke Senayan, ramai-ramai kawin lagi dan lebih edan ketika yang dikawini adalah eks "PSK" dari negeri "Eks Rusia". Mereka berharap jika kawin dengan bule mereka bisa punya anak cantik (indo) karena wajah bapaknya yang tidak akan "laku" jika tidak punya uang dan jabatan. Mereka tidak bersyukur memiliki wajah jelek (sama seperti penulis), karena dengan wajah seperti itu mereka lebih terjaga dari perbuatan maksiat dimasa muda.
Edan memang. Para ustad yang masuk senayan lupa dengan amanat yang diembannya, mereka justru sibuk dengan "wanita murahan" dan meninggalkan ladang dakwah yang berpuluh-puluh tahun dijalankan dengan penuh amanah. Mereka kalah dalam melawan cobaan nikmat yang diberikan Allah swt dan tertipu dengan kenikmatan dunia yang memang nikmat.
Edan memang. Ternyata elit partai Islam tidak kalah ganas dalam mendukung koruptor dengan terus berupaya mendesak dan membubarkan KPK. Nyatanya sama saja partai Islam dengan partainya kaum kafir sama-sama buas terhadap harta, kekuasaan dan perempuan.
Edan memang. Sandal jepit dan pisang mentah bisa membuat anak umur 16 tahun digebukin oknum polisi, pemuda cacat mental masuk penjara, remaja kakak beradik mati tergantung di tahanan polisi.
Inilah negeri dodor, negeri yang berjalan sendiri tanpa pengemudi (autopilot)dimana para elit negeri sibuk berburu harta, berebut kuasa dan menikmati wanita dan tidak peduli dengan rusaknya negeri dan penderitaan anak negeri sendiri. Mereka rukun dalam korupsi, saling melindungi dan sepakat untuk tidak peduli terhadap amanah yang diembannya. Mereka lupa diri untuk berbakti pada ibu pertiwi. Alangkah malangnya negeri ini.
Sabtu, 02 Oktober 2010
DOKTER: Berbaju bersih tetapi berhati kotor
Hari Kamis 30 September yang lalu saya bersama teman saya Andi dan Rusdi mengunjungi seorang karyawan Suwanto yang sedang sakit di rumahnya karena baru beberapa waktu yang lalu harus menjalani operasi besar akibat "TBC Tulang" di RS OEN Solo, Jawa Tengah. TBC tulang menyerang tulang belakangnya. Suwanto mendapat "mukjijat" yang luar biasa. Suwanto tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat kecil dengan luas sekitar 3m x 6m. Anugerah Allah swt berupa kemudahan dan kelancaran ini setelah Suwanto diperlakukan tidak berperikemanusiaan oleh oknum DOKTER berjenis kelamin laki-laki yang berpraktik di sebuah RS yang sangat besar di daerah Bekasi. Menurut cerita Suwanto ketika sedang berobat di RS tersebut dia dilayani dengan lembut, dan diwajibkan untuk operasi besar. Ketika ditanya berapa biaya operasi sang dokter menjawab bahwa nanti saja akan dihubungi via telepon setelah disuruh untuk SMS. Setelah Kel. Suwanto mengirim SMS kemudian sang dokter menelepon bahwa biaya operasi adalah sebesar Rp.100 juta. Biaya tersebut menurut sang dokter sangat murah karena resiko penyakit tersebut sangat berat dan membahayakan. Murah menurut dokter tsb tetapi tentu bagai disambar petir bagi Suwanto dan keluarganya, mengingat pendapatannya hanya sekitar Rp. 2 juta/bulan untuk menghidupi istri dan 2 anaknya. Setelah menyatakan keberatan dengan biaya Rp.100 juta, maka lain hari sang dokter menghubungi lagi dan menurunkan tawaran Rp.75 juta masih dengan nada yang halus dan santun, tetapi ketika Suwanto menyatakan bahwa hanya sanggup dengan biaya Rp.10, juta, maka nada halus dan sopan berubah menjadi nada tinggi.
Disinilah turun anugerah Allah swt yang memberikan petunjuk pada keluarganya yang tinggal di daerah Wonogiri, kabupaten yang berjarak 30km, arah selatan Solo. Salah satu anggota keluarga datang ke RS OEN Solo dan menceritakan perihal penyakit Suwanto dengan berbekal catatan medis yang dimiliki. Dengan penuh keramahan layaknya petugas medis yang berperikemanusiaan tinggi Sang Dokter wanita ini menjelaskan bahwa biaya operasi 15 juta ditambah pen dan lain-lain ya sekitar 18 juta. Biaya yang begitu murah dibanding jika dioperasi di Bekasi ini langsung disanggupi keluarganya. Kemudian diantarlah Suwanto dari Jakarta ke Solo naik pesawat terbang agar cepat dan praktis mengingat kondisinya yang sudah parah dan tidak bisa berjalan. Sama sekali tidak terbayang dalam benaknya bahwa suatu saat bisa naik pesawat, mengingat ekonominya yang terpuruk. Kemudian Daryadi salah satu kerabatnya datang ke kantor untuk memberitahukan kondisi ybs sekaligus menanyakan plafon kesehatan yang dimiliki oleh Suwanto. Alhamdulillah operasi dengan biaya murah tersebut sangat lancar sehingga setelah 15 hari di RS, Suwanto boleh pulang dan langsung ke Jakarta, lagi-lagi naik pesawat. Mungkin karena naik pesawat inilah Suwanto senang, sehingga mempercepat kesembuhannya. Bagi saya segala kemudahan yang dinikmati oleh Suwanto bukanlah hal yang aneh mengingat ybs hampir setiap hari bersama saya rutin menjalankan Sholat Dhuha 8 rakaat di Masjid Nurul Iman.
Anehnya ketika Suwanto sedang menjalani operasi di RS Solo, sang dokter yang berhati busuk dari Bekasi masih menghubungi via telepon dan menanyakan jadi operasi atau tidak. Sayang ya dokter dari RS di Bekasi ini yang setiap hari mengenakan baju putih bersih yang sebenarnya merupakan lambang kebersihan hatinya dalam menolong orang, justru berhati kotor bahkan lebih kotor dari tumpukan sampah di Bantar Gebang Bekasi. Hebatnya lagi ketika Suwanto mendaftar di RS tsb sama sekali tidak dimintai biaya pendaftaran dan pasien langsung dilayani dengan baik. Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Solo, saya ikut bangga dengan kualitas layanan RS di kampung kelahiranku
Karena banyaknya pertanyaan pembaca blog ini yang menanyakan alamat RS dan Nama Dokter yang melakukan operasi pada Mas Suwanto, maka saya tambahkan alamat yang dimaksud yaitu:
Nama
dokter yang mengoperasi Suwanto adalah Dr. Pamudji, praktek di RS Karima Utama.
Jalan Amarta 8-10 Kartosuro, Desa Ngabean, Kartosuro. No.Telepon (021) 783 399
dan 784 185. Menurut Suwanto, waktu cek kesehatan di RS Oen tetapi operasinya di sini. Semoga
membantu dan karyawan bapak, orang tua, saudara bapak/ibu mas dapat sehat seperti sedia kala.
Waktu itu biayasampai selesai sekitar Rp.14-16 juta pak/bu/mas
Waktu itu biayasampai selesai sekitar Rp.14-16 juta pak/bu/mas
Alamat ini baru saya peroleh dari Suwanto yang masih bekerja di PT BSA Group, dan akhir Mei 2012 kemarin saya tanya keadaannya sudah normal dalam bekerja dan ybs sudah kembali menjalani sholat Dhuha di Masjid secara rutin, sementara sejak November 2011 saya menjalani masa pensiun dan sekarang menjadi staf pengajar di Kampus IBII Jakarta.
Jumat, 19 Maret 2010
"RUANG MARKUS DI SEBELAH RUANG KAPOLRI"
Menarik mengamati tokoh Polri yang satu ini yaitu Susno Duaji (SD). Setelah reputasinya hancur akibat mempelopori perseteruan "CICAK Vs BUAYA" yang mengakibatkan jabatannya sebagai Kabareskrim "dicopot" atau "dimutasikan", maka belakangan menggebrak media dengan melontarkan pernyataan bahwa ruang "Markus" di Polri justru ada di sebelah ruang Kapolri dan Wakapolri. Tanpa tedeng aling-aling beliau juga menyebutkan inisial 2 (dua) Jenderal Polisi yang terlibat sebagai Markus dan 2 (dua) orang perwira menengah lainnya. Markus ini telah menggarong uang pajak sejumlah Rp.24,6 milyar. Seorang jenderal yang hari ini menjabat sebagai Kapolda Lampung lansung menggelar jumpa pers untuk menanggapi pernyataan SD. Sementara seorang jenderal yang masih menjabat sebagai Direktur di Bareskrim Polri memberikan pernyataan dengan menyatakan bahwa apa yang dilakukan SD adalah ibarat "Maling Teriak Maling" (Kompas, 19 Maret 2010).
Informasi sudah disampaikan pada Satgas Anti Korupsi, namun satgas yang dikomandani oleh Kuntoro dan Denny ini terlihat maju mundur, terkesan mereka "keder" berhadapan dengan para petinggi Polri. Sikap maju mundur satgas ini mungkin meneladani sikap bos mereka Presiden SBY (Megawati pernah mengkritik dengan istilah "poco-poco")
Adnan Buyung Nasution salah seorang pengacara yang senior dan pernah menjadi wantimpres membuat pernyataan: "Jika SD berani membuka masalah ini, maka dia akan menjadi seorang pahlawan". Pernyataan ini perlu di amini, mengingat masyarakat sudah muak dengan perilaku korup aparat kepolisian. Masalahnya benarkah SD ingin membongkar kasus korupsi dikepolisian dan membangun institusi kepolisian yang bersih atau karena membalas dendam atas dicopotnya jabatan sebagai Kabareskrim.
Lepas dari apapun alasan SD kalau penggarongan uang negara (pajak) ini benar-benar dilakukan para jenderal, negara ini mau dibawa kemana? Apakah para jenderal ini tidak pernah ingat bahwa hidup didunia ini hanya sementara dan ada azab yang sangat pedih akan menimpa mereka kelak diakhirat. "Naudzubillahminzalik".
Informasi sudah disampaikan pada Satgas Anti Korupsi, namun satgas yang dikomandani oleh Kuntoro dan Denny ini terlihat maju mundur, terkesan mereka "keder" berhadapan dengan para petinggi Polri. Sikap maju mundur satgas ini mungkin meneladani sikap bos mereka Presiden SBY (Megawati pernah mengkritik dengan istilah "poco-poco")
Adnan Buyung Nasution salah seorang pengacara yang senior dan pernah menjadi wantimpres membuat pernyataan: "Jika SD berani membuka masalah ini, maka dia akan menjadi seorang pahlawan". Pernyataan ini perlu di amini, mengingat masyarakat sudah muak dengan perilaku korup aparat kepolisian. Masalahnya benarkah SD ingin membongkar kasus korupsi dikepolisian dan membangun institusi kepolisian yang bersih atau karena membalas dendam atas dicopotnya jabatan sebagai Kabareskrim.
Lepas dari apapun alasan SD kalau penggarongan uang negara (pajak) ini benar-benar dilakukan para jenderal, negara ini mau dibawa kemana? Apakah para jenderal ini tidak pernah ingat bahwa hidup didunia ini hanya sementara dan ada azab yang sangat pedih akan menimpa mereka kelak diakhirat. "Naudzubillahminzalik".
Kamis, 04 Februari 2010
RAKYAT KELAPARAN, KERBAU dan BUAYA HIDUP DALAM KEMEWAHAN
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Potongan sair lagu Iwan "NEGERI BEDEBAH"tersebut enak dikutip, ditambah dengan pernyataan Buya AS Maarif tentang "NEGERI GARONG" maka lengkaplah gelar hebat untuk negeri yang "gemah ripah loh jinawi". Yang membuat pernyataan tersebut adalah seniman yang aktif melakukan kontrol sosial dan sang buya adalah mantan Ketua Umum Ormas Islam besar yang terkenal santun dan hidup "bersih"
Kalau sang buya sudah melontarkan pernyataan dengan gaya bahasa "sarkasme" tentulah karena dada beliau sudah sesak. Kesesakkan dadanya sangat mudah dipahami, bagaimana tidak, setelah lebih dari 10 tahun negeri bedebah direformasi kehidupan rakyat bukan menjadi lebih baik, namun semakin banyak rakyat yang diberitakan kelaparan, bahkan ada yang mati kelaparan.Rakyat kelaparan di suatu negeri hanya mungkin terjadi jika pemimpin "tidak amanah dan munafik". Lihatlah negeri bedebah yang subur ini meskipun rakyatnya banyak yang kelaparan dan lebih banyak lagi yang hidup miskin tetapi para pemimpin malah hidup bergelimang kemewahan: membeli pesawat, mobil mewah dan makan makanan yang lebih lezat termasuk melipatgandakan penghasilan mereka. Umar bin Khatab r.a. marah besar ketika tahu gajinya sebagai pemimpin negeri akan dinaikkan supaya bisa membeli baju baru. Perhatikan tubuh mereka yang subur-subur, pipinya tambah gembul sementara rakyatnya banyak yang kurus kering. Hal ini menggambarkan para pemimpin sama sekali tidak memiliki rasa empati pada kesulitan hidup rakyatnya. Dari sudut agama inilah jenis manusia yang telah menetapkan pilihan hidupnya untuk menjadi wali syeitan. Sungguh suatu pilihan yang sangat berani. Sebagai muslim harusnya mereka berkaca pada kepemimpinan Umar bin Abd Azis, bagaimana sebagai pemimpin memberikan contoh yang luar biasa hebat yaitu menyerahkan seluruh harta kekayaannya pada kas negara. Padahal beliau adalah orang yang kaya raya. Pada masa kepemimpinan beliaulah rakyat tidak ada lagi yang berhak menerima zakat dan sedekah karena sudah hidup makmur dan sejahtera. Tuntutan di negeri bedebah dan garong ini tidak perlu meniru Umar B Abd Azis, karena akan mengakibatkan surga penuh, namun cukup dengan tidak korupsi dan menggarong uang negara. Jika ini dilakukan buku yang menulis mengenai binatang Gurita pasti tidak akan laku dijual. Hidup sederhana sebagai gambaran bahwa para pemimpin adalah manusia biasa yang masih punya rasa takut pada Allah swt, dan bukan iblis yang tugasnya membuat manusia celaka. Jika gaya hidup para pemimpin sebuah negeri bedebah masih seperti ini maka pantaslah kalau di negeri ini rakyatnya kelaparan tetapi kerbau dan buaya hidup dalam kemewahan. Jika dulu ada tokoh masyarakat seperti Pak Amin yang menyebut seorang Pemimpin Negeri sebagai "Firaun Jawa", meskipun banyak orang Jawa yang tersinggung, namun banyak juga yang mengamini pernyataan tersebut. Mungkinkah sang "Firaun Jawa" sudah berhasil melakukan regenerasi? Wallahu a'lam bishshwab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mari kita resapi puisi anak rakyat dibawah ini:
RAKYAT KECIL:Pasti kecil orangnya
karena kurang gizi,
Pasti kecil dapat duitnya,
Pasti kecil tempat tinggalnya,
Pasti kecil keinginannya,
Pasti kecil bohongnya,
Pasti besar IMANnya
Dan BESAR di mata TUHAN
Beda dengan……
PEMBESAR:Pasti besar orangnya,
Pasti besar dapat duitnya,
Pasti besar rumahnya,
Pasti besar keinginannya,
Pasti besar kantong bajunya,
Pasti besar bohongnya,
Pasti kecil IMANnya,
Dan KECIL di mata TUHAN
(NURJANAH, Kelas 5 SD Inpres, Jateng)
Potongan sair lagu Iwan "NEGERI BEDEBAH"tersebut enak dikutip, ditambah dengan pernyataan Buya AS Maarif tentang "NEGERI GARONG" maka lengkaplah gelar hebat untuk negeri yang "gemah ripah loh jinawi". Yang membuat pernyataan tersebut adalah seniman yang aktif melakukan kontrol sosial dan sang buya adalah mantan Ketua Umum Ormas Islam besar yang terkenal santun dan hidup "bersih"
Kalau sang buya sudah melontarkan pernyataan dengan gaya bahasa "sarkasme" tentulah karena dada beliau sudah sesak. Kesesakkan dadanya sangat mudah dipahami, bagaimana tidak, setelah lebih dari 10 tahun negeri bedebah direformasi kehidupan rakyat bukan menjadi lebih baik, namun semakin banyak rakyat yang diberitakan kelaparan, bahkan ada yang mati kelaparan.Rakyat kelaparan di suatu negeri hanya mungkin terjadi jika pemimpin "tidak amanah dan munafik". Lihatlah negeri bedebah yang subur ini meskipun rakyatnya banyak yang kelaparan dan lebih banyak lagi yang hidup miskin tetapi para pemimpin malah hidup bergelimang kemewahan: membeli pesawat, mobil mewah dan makan makanan yang lebih lezat termasuk melipatgandakan penghasilan mereka. Umar bin Khatab r.a. marah besar ketika tahu gajinya sebagai pemimpin negeri akan dinaikkan supaya bisa membeli baju baru. Perhatikan tubuh mereka yang subur-subur, pipinya tambah gembul sementara rakyatnya banyak yang kurus kering. Hal ini menggambarkan para pemimpin sama sekali tidak memiliki rasa empati pada kesulitan hidup rakyatnya. Dari sudut agama inilah jenis manusia yang telah menetapkan pilihan hidupnya untuk menjadi wali syeitan. Sungguh suatu pilihan yang sangat berani. Sebagai muslim harusnya mereka berkaca pada kepemimpinan Umar bin Abd Azis, bagaimana sebagai pemimpin memberikan contoh yang luar biasa hebat yaitu menyerahkan seluruh harta kekayaannya pada kas negara. Padahal beliau adalah orang yang kaya raya. Pada masa kepemimpinan beliaulah rakyat tidak ada lagi yang berhak menerima zakat dan sedekah karena sudah hidup makmur dan sejahtera. Tuntutan di negeri bedebah dan garong ini tidak perlu meniru Umar B Abd Azis, karena akan mengakibatkan surga penuh, namun cukup dengan tidak korupsi dan menggarong uang negara. Jika ini dilakukan buku yang menulis mengenai binatang Gurita pasti tidak akan laku dijual. Hidup sederhana sebagai gambaran bahwa para pemimpin adalah manusia biasa yang masih punya rasa takut pada Allah swt, dan bukan iblis yang tugasnya membuat manusia celaka. Jika gaya hidup para pemimpin sebuah negeri bedebah masih seperti ini maka pantaslah kalau di negeri ini rakyatnya kelaparan tetapi kerbau dan buaya hidup dalam kemewahan. Jika dulu ada tokoh masyarakat seperti Pak Amin yang menyebut seorang Pemimpin Negeri sebagai "Firaun Jawa", meskipun banyak orang Jawa yang tersinggung, namun banyak juga yang mengamini pernyataan tersebut. Mungkinkah sang "Firaun Jawa" sudah berhasil melakukan regenerasi? Wallahu a'lam bishshwab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mari kita resapi puisi anak rakyat dibawah ini:
RAKYAT KECIL:Pasti kecil orangnya
karena kurang gizi,
Pasti kecil dapat duitnya,
Pasti kecil tempat tinggalnya,
Pasti kecil keinginannya,
Pasti kecil bohongnya,
Pasti besar IMANnya
Dan BESAR di mata TUHAN
Beda dengan……
PEMBESAR:Pasti besar orangnya,
Pasti besar dapat duitnya,
Pasti besar rumahnya,
Pasti besar keinginannya,
Pasti besar kantong bajunya,
Pasti besar bohongnya,
Pasti kecil IMANnya,
Dan KECIL di mata TUHAN
(NURJANAH, Kelas 5 SD Inpres, Jateng)
Rabu, 13 Januari 2010
JENDERAL POL. SUSNO DUAJI Vs MABES POLRI
Episode Cicak Vs Buaya, analogi "pertempuran" antara KPK Vs Polri seperti yang dinyatakan oleh Jenderal Susno Duaji (SD) berakhir antiklimaks dengan dicopotnya SD dari jabatan Kabareskrim Mabes Polri dan dilepaskannya Bibit & Chandra (B&C) dari tahanan Polri.
SD yang sempat mengukir prestasi ketika menjabat sebagai Kapolda Jabar dengan melakukan reformasi di lingkungan Polda Jabar. Ketika itu banyak teman-teman saya yang mengurus SIM dan STNK hanya membayar biaya resmi tanpa ada pungutan liar sesenpun. Pada saat duduk di PPATK beliau juga sempat melontarkan pernyataan ada beberapa Jenderal Polisi yang memiliki rekening ratusan milyar, bahkan ada satu jenderal yang konon kabarnya memiliki rekening lebih dari satu triliun.
Namun prestasi itu tertutup dengan apa yang dituduhkan kepadanya sebagai salah satu aktor yang berupaya keras mengkriminalisasi KPK bersama Anggodo dkk. Masyarakat menghujat SD dan memberikan dukungan moral luar biasa besar pada B&C dari KPK. Institusi Polri menjadi bulan-bulanan masyarakat luas. Analogi Polri sebagai buaya dan KPK sebagai cicak yang dipopulerkan SD ibarat senjata makan tuan.
Kini perseteruan berbalik ke internal Polri. SD dengan dalih untuk mengungkapkan kebenaran maju menjadi saksi yang meringankan Antasari (AA). Mabes Polri menyalahkan SD maju menjadi saksi tanpa ijin. Segala fasilitas yang selama ini dinikmati seperti rumah, mobil dinas, ajudan dan pengawalan langsung ditarik. Untuk melaksanakan penarikan tersebut Mabes Polri mengirim Densus 88. Yang mengagetkan SD menerima ancaman via SMS akan dibunuh termasuk cucu kesayangannya.
SD terus berbicara di media, demikian pula Mabes Polri. SD tidak gentar sedikitpun berhadapan dengan institusinya. Sementara Mabes Polri berhitung dengan cermat, mengingat SD pasti memiliki data dan kartu truf. Sebagai seorang jenderal yang pernah duduk di PPATK, SD pasti memiliki data rekening sebagian besar jenderal polisi, bahkan dapat dipastikan SD memiliki data rekening Kapolri dan Presiden beserta keluarganya.
Masyarakatpun menebak, jika SD berani berhadapan dengan Kapolri dan stafnya dapat dipastikan SD memiliki senjata pamungkas. Pernyataan yang sangat berani dari SD adalah: "Satgas Anti Mafia Korupsi di Polri tidak diperlukan jika Kapolri anti korupsi". Anehnya pernyataan ini tidak direspon sama sekali oleh jajaran Polri yang biasanya sangat responsif. Namun akhir perseteruan ini mudah diduga, karena siapa yang menang akan hancur dan yang kalah menjadi abu.
Anti klimaks perseteruan SD dengan Mabes Polri sudah mulai nampak ketika kemarin Kaba Intel Mabes Polri mengunjungi SD di rumahnya. Peristiwa itu dapat diduga awal dari sebuah negosiasi dan Mabes Polri mengajukan penawaran agar SD bersedia menutup mulutnya. Rakyat juga sudah jenuh melihat kelakuan para pejabat tersebut, mungkinkah Allah swt masih berkenan membuka hati mereka, agar mereka amanah dalam menjalankan tugas sehingga rakyat mendapatkan pengayoman seperti yang dijanjikan kepolisian? (HRS
SD yang sempat mengukir prestasi ketika menjabat sebagai Kapolda Jabar dengan melakukan reformasi di lingkungan Polda Jabar. Ketika itu banyak teman-teman saya yang mengurus SIM dan STNK hanya membayar biaya resmi tanpa ada pungutan liar sesenpun. Pada saat duduk di PPATK beliau juga sempat melontarkan pernyataan ada beberapa Jenderal Polisi yang memiliki rekening ratusan milyar, bahkan ada satu jenderal yang konon kabarnya memiliki rekening lebih dari satu triliun.
Namun prestasi itu tertutup dengan apa yang dituduhkan kepadanya sebagai salah satu aktor yang berupaya keras mengkriminalisasi KPK bersama Anggodo dkk. Masyarakat menghujat SD dan memberikan dukungan moral luar biasa besar pada B&C dari KPK. Institusi Polri menjadi bulan-bulanan masyarakat luas. Analogi Polri sebagai buaya dan KPK sebagai cicak yang dipopulerkan SD ibarat senjata makan tuan.
Kini perseteruan berbalik ke internal Polri. SD dengan dalih untuk mengungkapkan kebenaran maju menjadi saksi yang meringankan Antasari (AA). Mabes Polri menyalahkan SD maju menjadi saksi tanpa ijin. Segala fasilitas yang selama ini dinikmati seperti rumah, mobil dinas, ajudan dan pengawalan langsung ditarik. Untuk melaksanakan penarikan tersebut Mabes Polri mengirim Densus 88. Yang mengagetkan SD menerima ancaman via SMS akan dibunuh termasuk cucu kesayangannya.
SD terus berbicara di media, demikian pula Mabes Polri. SD tidak gentar sedikitpun berhadapan dengan institusinya. Sementara Mabes Polri berhitung dengan cermat, mengingat SD pasti memiliki data dan kartu truf. Sebagai seorang jenderal yang pernah duduk di PPATK, SD pasti memiliki data rekening sebagian besar jenderal polisi, bahkan dapat dipastikan SD memiliki data rekening Kapolri dan Presiden beserta keluarganya.
Masyarakatpun menebak, jika SD berani berhadapan dengan Kapolri dan stafnya dapat dipastikan SD memiliki senjata pamungkas. Pernyataan yang sangat berani dari SD adalah: "Satgas Anti Mafia Korupsi di Polri tidak diperlukan jika Kapolri anti korupsi". Anehnya pernyataan ini tidak direspon sama sekali oleh jajaran Polri yang biasanya sangat responsif. Namun akhir perseteruan ini mudah diduga, karena siapa yang menang akan hancur dan yang kalah menjadi abu.
Anti klimaks perseteruan SD dengan Mabes Polri sudah mulai nampak ketika kemarin Kaba Intel Mabes Polri mengunjungi SD di rumahnya. Peristiwa itu dapat diduga awal dari sebuah negosiasi dan Mabes Polri mengajukan penawaran agar SD bersedia menutup mulutnya. Rakyat juga sudah jenuh melihat kelakuan para pejabat tersebut, mungkinkah Allah swt masih berkenan membuka hati mereka, agar mereka amanah dalam menjalankan tugas sehingga rakyat mendapatkan pengayoman seperti yang dijanjikan kepolisian? (HRS
Langganan:
Postingan (Atom)