Sudah seminggu lebih anak sekolah di Jakarta mulai ajaran baru. Setiap hari saya mengantar anak-anak sekolah dari arah Pulogebang menuju Rawamangun. Kami berangkat pukul 05.25 atau jam setengah enam kurang lima menit. Sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolah saya melihat banyak ibu-ibu sambil menggendong bayi menuntun anak-anaknya yang saya perkirakan duduk di kelas 1 s.d. kelas 4, masih kecil-kecil, berjuang untuk menyeberang jalan di sela-sela ganasnya para pengemudi baik mobil maupun motor. Terbayang dalam pikiran saya bagaimana para ibu sibuk membangunkan anak-anaknya pada saat adzan subuh berkumandang pukul 04.43 wib agar mereka segera mandi, kemudian sarapan (kalau ada) dan menyiapkan bekal makanan (kalau ada) agar tidak terlambat masuk sekolah yang telah ditetapkan bahwa jam sekolah dimulai pukul 06.30 wib. Mereka harus berjalan kaki menuju sekolah karena tidak ada pilihan lain, mau naik motor tidak punya apalagi naik mobil. Bayi-bayi yang masih terlelap diangkat paksa dan digendong untuk ikut mengantar kakaknya ke sekolah.Penderitaan mereka akan bertambah jika hujan turun di pagi hari.Perjuangan para ibu dipagi yang gelap itu sungguh kontras dengan pemandangan satu jam kemudian, bagaimana nikmatnya para pejabat yang naik mobil plat merah, atau mobil pribadi yang mewah hasil korupsinya duduk dengan sombongnya di jok belakang, karena mobil dikendarai sopir yang mengenakan pakaian safari gelap. Mereka melaju dengan kencang karena jalanan sudah lengang, tidak macet karena kemacetan telah diarahkan khusus bagi anak-anak sekolah. Selesai mengantar anak sekolah saya balik menuju rumah dan biasanya sekitar pukul 07.30 wib saya tiba di rumah kembali. Tetangga dan teman-teman saya yang menjadi pejabat baru saja siap berangkat ketempat kerja, mereka akan menikmati lengangnya jalanan Jakarta karena anak sekolah sudah mulai belajar di ruang kelas masing-masing. Sungguh nikmat hidup para koruptor di negeri ini.
Pengaturan jam sekolah yang dimulai pukul 06.30 sangat menyengsarakan masyarakat ekonomi lemah. Akan lebih baik aturan itu dibalik dengan memajukan jam kerja instansi pemerintah, artinya layanan masyarakat bisa dimulai jam 06.30 wib. Beberapa keuntungan yang akan diperoleh jika jam kerja instansi dimajukan adalah:
1. Para PNS dapat lebih tertib menjalankan sholat subuh, karena terpaksa harus bangun pagi.
2. Masjid akan lebih makmur dari sekarang. Masjid di waktu subuh lebih banyak dikunjungi para PNS. Saat ini jarang saya ketemu pejabat atau mantan pejabat di masjid ketika sholat subuh
3. Seringnya para PNS mengunjungi masjid, Insya Allah akan berdampak pada penurunan korupsi, karena mereka selalu diingatkan bahwa Allah swt itu benar-benar ada dan melihat apa yang mereka lakukan.
4. Seringnya para pejabat ke masjid, dipastikan akan berdampak pada kualitas layanan pada masyarakat.
5. Anak-anak kecil (murid SD) tidak harus bangun pagi. Kondisi saat ini terbalik. Anak-anak SD bangun ketika adzan berkumandang, sementara bapak-bapak atau ibu-ibu pejabat masih mendengkur.
6. Masyarakat bawah akan terbantu, sehingga ibu-ibu dari keluarga "bawah" tidak perlu tergesa-gesa mengantar anak ke sekolah.
7. Layanan masyarakat yang dimulai pukul 06.30 wib akan membantu para pekerja swasta sehingga mereka tidak harus ijin terlalu lama dari kantor untuk berurusan dengan instansi pemerintah Misal: mengurus KTP, akte lahir dlsb.
8. Rakyat akan mengapresiasi para pejabat karena ternyata mereka masih memikirkan kondisi masyarakat bawah.
Semoga para pejabat penentu kebijakan akan tergugah nuraninya, sehingga mampu membuat kebijakan yang lebih pro rakyat.
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 Juli 2010
Selasa, 06 April 2010
BULLYING PRODUK "GENERASI HARAM"
Pemberitaan media baik cetak, maya, maupun layar kaca belakangan sangat gencar perihal praktek bullying di sekolah-sekolah, mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Kekerasan yang dilakukan senior terhadap yunior sudah keterlaluan karena pada beberapa kasus sang yunior yang berstatus mahasiswa sampai harus meninggal dunia. Di beberapa sekolah menengah atas dan pertama sang yunior menderita fisik yang lumayan berat seperti patah tangan dan penglihatan terganggu selamanya. Sekolah-sekolah favoritpun tak luput dari praktek kekerasan dan sayangnya praktek tsb dibiarkan saja oleh para kepala sekolah dan guru. Para guru "pura-pura" tidak tahu terhadap tindak kekerasan seperti ini,sementara aparat penegak hukum juga cenderung pasif menangani kasus ini karena biasanya para pelaku kekerasan adalah anak-anak pejabat atau jika bukan pejabat adalah anak-anak "orang kuat"
Kenapa anak-anak muda dan remaja ini senang melakukan kekerasan justru pada yuniornya sendiri yang notabene adalah sahabat sendiri? Kenapa anak-anak muda dan remaja ini tega melihat sahabatnya sendiri menderita? Kenapa anak-anak muda dan remaja ini seperti memperoleh kepuasan ketika melihat sahabatnya sendiri tidak berdaya diperlakukan sewenang-wenang? Kenapa generasi ini justru memperoleh kepuasan jika berhasil mendzolimi sahabatnya sendiri?
Saya pernah mendengarkan khotbah KH Abdullah H (penasehat KPK) pada saat Sholat Idul Adha di Masjid Raya Al-Azhar Sentra Primer beberapa waktu yang lalu. Dalam salah satu materi khotbahnya beliau menjelaskan bahwa untuk menghindari bencana yang lebih besar lagi melanda negeri ini adalah dengan cara melahirkan Generasi Rabbani. Generasi ini hanya dapat dibangun jika anak-anak dibesarkan dan diberikan nafkah dari uang yang halal, bukan hasil korupsi, menipu dan memeras uang lain. Demikian juga dalam sehari-hari orang tua harus mampu memberikan contoh yang baik dalam beribadah, kejujuran, sopan santun dalam bersikap dan tolong menolong.
Dengan demikian kita dapat menarik kesimpulan bahwa anak-anak yang dibesarkan dari uang haram (hasil korupsi, menipu dan memeras orang lain)akan melahirkan generasi yang tidak Islami, cenderung kasar, suka menindas orang lain dan tidak memiliki empati. Apalagi jika dalam kehidupan sehari-sehari orang tuanya tidak mampu memberikan contoh yang baik dalam beribadah dan berperilaku, maka anak-anak akan tumbuh menjadi "Generasi Haram", tidak peduli mereka berangkat ke sekolah diantar mobil mewah, mengenakan sepatu dan asesoris lainnya yang serba berkelas. Ketika mereka sudah terbentuk menjadi generasi haram, maka mereka tidak akan segan-segan mendzolimi orang lain, baik ketika mereka masih berstatus pelajar atau mahasiswa maupun ketika mereka sudah dewasa bahkan tua sekalipun.
Kenapa anak-anak muda dan remaja ini senang melakukan kekerasan justru pada yuniornya sendiri yang notabene adalah sahabat sendiri? Kenapa anak-anak muda dan remaja ini tega melihat sahabatnya sendiri menderita? Kenapa anak-anak muda dan remaja ini seperti memperoleh kepuasan ketika melihat sahabatnya sendiri tidak berdaya diperlakukan sewenang-wenang? Kenapa generasi ini justru memperoleh kepuasan jika berhasil mendzolimi sahabatnya sendiri?
Saya pernah mendengarkan khotbah KH Abdullah H (penasehat KPK) pada saat Sholat Idul Adha di Masjid Raya Al-Azhar Sentra Primer beberapa waktu yang lalu. Dalam salah satu materi khotbahnya beliau menjelaskan bahwa untuk menghindari bencana yang lebih besar lagi melanda negeri ini adalah dengan cara melahirkan Generasi Rabbani. Generasi ini hanya dapat dibangun jika anak-anak dibesarkan dan diberikan nafkah dari uang yang halal, bukan hasil korupsi, menipu dan memeras uang lain. Demikian juga dalam sehari-hari orang tua harus mampu memberikan contoh yang baik dalam beribadah, kejujuran, sopan santun dalam bersikap dan tolong menolong.
Dengan demikian kita dapat menarik kesimpulan bahwa anak-anak yang dibesarkan dari uang haram (hasil korupsi, menipu dan memeras orang lain)akan melahirkan generasi yang tidak Islami, cenderung kasar, suka menindas orang lain dan tidak memiliki empati. Apalagi jika dalam kehidupan sehari-sehari orang tuanya tidak mampu memberikan contoh yang baik dalam beribadah dan berperilaku, maka anak-anak akan tumbuh menjadi "Generasi Haram", tidak peduli mereka berangkat ke sekolah diantar mobil mewah, mengenakan sepatu dan asesoris lainnya yang serba berkelas. Ketika mereka sudah terbentuk menjadi generasi haram, maka mereka tidak akan segan-segan mendzolimi orang lain, baik ketika mereka masih berstatus pelajar atau mahasiswa maupun ketika mereka sudah dewasa bahkan tua sekalipun.
Rabu, 10 Maret 2010
TERIMA KASIH UNITED TRACTORS, TERIMA KASIH BRI, TERIMA KASIH GURUKU
Meskipun sudah terlambat saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih pada PT UNITED TRACTORS Tbk (UT) dan BANK RAKYAT INDONESIA, Tbk (BRI) serta teman-teman dari SDMList dan PERMATA BANGSA.
Dengan sangat mudah Direksi UT dan BRI menyalurkan bantuan sebagai sponsor terhadap kegiatan pelatihan gratis untuk 100 guru angkatan I. Ketika saya menyampaikan proposal pelatihan manajemen UT & BRI menyambut gembira program pemberdayaan guru tersebut dan dalam hitungan menit masing-masing manajemen mensponsori 50%-50% dari seluruh biaya yang dikeluarkan. Bahkan UT menawarkan Training Centernya yang mampu menampung 100 orang untuk dipakai secara gratis. Ruang training UT setara dengan hotel bintang 4, sangat memadai untuk pelaksanaan pelatihan tsb. Demikian juga manajemen BRI menawarkan ruang training yang berlokasi di daerah Ragunan untuk dimanfaatkan bagi angkatan selanjutnya.
Program ini benar-benar dihadiri 100 guru TK/SD/SMP/SMU dan seluruh peserta hadir penuh, tepat waktu dan menikmati pelatihan selama 2 hari tersebut. Bahkan 6 orang guru dari Bandung juga hadir dengan penuh antusias.
Pelatihan ini menghadirkan Nara Sumber diantaranya: Prof. DR I Made Putrawan (Direktur PPs UNJ), Prof. DR.H. Soedijarto, MA (Mantan Dirjen), Prof. Conny Semiawan (mantan Rektor UNJ), Prof. Aris Pongtuluran, Ph.D (Guru Besar UNJ), Ir Hendri S Suardi, MBA (Direktur Keuangan dan Admin PT ELNUSA), Sadrah Rianto (Direktur Madania), Drs. Sarwono Sudarto, MBA/Djoko, M.COM (Direksi BRI) dan DR H. Robert Sudaryono, SH, MBA, MM sebagai penanggung jawab pelatihan. Seluruh peserta tidak dipungut biaya alias gratis, bahkan mendapatkan kaos seragam dari UT, Snack 2x/hari dan makan siang, serta uang transpot sebesar Rp.60 ribu sedangkan yang dari Bandung mendapatkan Rp.100 ribu,-.
Luar biasa antusias para peserta selama latihan, terlihat dari kesan dan pesan yang dituliskan para guru yang sangat mengharapkan pelatihan ini berkelanjutan.
Motivasi penyelenggaran pelatihan ini semata-mata adalah murni idealisme dan balas budi bagi jasa para guru yang telah mencerdaskan bangsa, meskipun pemerintah selama ini tidak begitu menghargai jasa-jasa mereka. Sertifikat yang ditanda-tangani oleh Prof Dr. Soedijarto, MA sebagai Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan, dapat digunakan untuk melengkapi portofolio guru sebagai kelengkapan proses sertifikasi. Tema pelatihan adalah : "MENUJU GURU MASA DEPAN"
Ketika diberikan kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesan pada saat penutupan acara, para guru menyatakan sangat terharu dan bangga ternyata masih ada organisasi dan perusahaan yang memperhatikan dan menghargai jasa-jasa para guru. Terima kasih mereka nyatakan berulang-ulang dan mendoakan panitia dan sponsor agar selalu sukses. Doa tulus dari para guru Insya Allah akan dijabah oleh Yang Maha Kuasa. Dan saya sudah merasakan langsung akibat doa para guru tersebut. Sayang karena keterbatasan waktu angkatan ke 2 belum bisa dilaksanakan meskipun beberapa perusahaan sudah menyatakan ingin mensponsori kegiatan seperti ini. Terima kasih Guruku semoga Allah SWT menyematkan bintang jasa di dadamu. Amin.
Dengan sangat mudah Direksi UT dan BRI menyalurkan bantuan sebagai sponsor terhadap kegiatan pelatihan gratis untuk 100 guru angkatan I. Ketika saya menyampaikan proposal pelatihan manajemen UT & BRI menyambut gembira program pemberdayaan guru tersebut dan dalam hitungan menit masing-masing manajemen mensponsori 50%-50% dari seluruh biaya yang dikeluarkan. Bahkan UT menawarkan Training Centernya yang mampu menampung 100 orang untuk dipakai secara gratis. Ruang training UT setara dengan hotel bintang 4, sangat memadai untuk pelaksanaan pelatihan tsb. Demikian juga manajemen BRI menawarkan ruang training yang berlokasi di daerah Ragunan untuk dimanfaatkan bagi angkatan selanjutnya.
Program ini benar-benar dihadiri 100 guru TK/SD/SMP/SMU dan seluruh peserta hadir penuh, tepat waktu dan menikmati pelatihan selama 2 hari tersebut. Bahkan 6 orang guru dari Bandung juga hadir dengan penuh antusias.
Pelatihan ini menghadirkan Nara Sumber diantaranya: Prof. DR I Made Putrawan (Direktur PPs UNJ), Prof. DR.H. Soedijarto, MA (Mantan Dirjen), Prof. Conny Semiawan (mantan Rektor UNJ), Prof. Aris Pongtuluran, Ph.D (Guru Besar UNJ), Ir Hendri S Suardi, MBA (Direktur Keuangan dan Admin PT ELNUSA), Sadrah Rianto (Direktur Madania), Drs. Sarwono Sudarto, MBA/Djoko, M.COM (Direksi BRI) dan DR H. Robert Sudaryono, SH, MBA, MM sebagai penanggung jawab pelatihan. Seluruh peserta tidak dipungut biaya alias gratis, bahkan mendapatkan kaos seragam dari UT, Snack 2x/hari dan makan siang, serta uang transpot sebesar Rp.60 ribu sedangkan yang dari Bandung mendapatkan Rp.100 ribu,-.
Luar biasa antusias para peserta selama latihan, terlihat dari kesan dan pesan yang dituliskan para guru yang sangat mengharapkan pelatihan ini berkelanjutan.
Motivasi penyelenggaran pelatihan ini semata-mata adalah murni idealisme dan balas budi bagi jasa para guru yang telah mencerdaskan bangsa, meskipun pemerintah selama ini tidak begitu menghargai jasa-jasa mereka. Sertifikat yang ditanda-tangani oleh Prof Dr. Soedijarto, MA sebagai Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan, dapat digunakan untuk melengkapi portofolio guru sebagai kelengkapan proses sertifikasi. Tema pelatihan adalah : "MENUJU GURU MASA DEPAN"
Ketika diberikan kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesan pada saat penutupan acara, para guru menyatakan sangat terharu dan bangga ternyata masih ada organisasi dan perusahaan yang memperhatikan dan menghargai jasa-jasa para guru. Terima kasih mereka nyatakan berulang-ulang dan mendoakan panitia dan sponsor agar selalu sukses. Doa tulus dari para guru Insya Allah akan dijabah oleh Yang Maha Kuasa. Dan saya sudah merasakan langsung akibat doa para guru tersebut. Sayang karena keterbatasan waktu angkatan ke 2 belum bisa dilaksanakan meskipun beberapa perusahaan sudah menyatakan ingin mensponsori kegiatan seperti ini. Terima kasih Guruku semoga Allah SWT menyematkan bintang jasa di dadamu. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)