Berita penangkapan ustad oleh KPK karena korupsi telah membuka kedok dakwah menyesatkan yang mereka lakukan. Hari ini Jumat, 1 Februari 2013 ketika membaca ROL (Republika) ada tulisan seorang kader partai sang ustad di Bandung yang menjelaskan bagaimana mereka aktif berjualan donat, majalah dan apa saja yang seluruh untungnya dipergunakan untuk membiayai kampanye partai, karena mereka tidak suka meminta bantuan pihak eksternal katanya. Kemudian kalau masih kurang seluruh kader diwajibkan menyumbang Rp.5.000,-.
Setelah partai besar ternyata para ustad yang menjadi imam mereka yang ada di Senayan ternyata mulai mengenakan Jam Rolex. Para kader hanya mengelus dada menyaksikan ulah para imam. Para kader disuruh jualan donat dan untungnya diserahkan partai, tetapi ketika para ustad yang menjadi imam mendapatkan uang milyaran hanya dipergunakan untuk foya-foya. Padahal pada setiap Liqoad para kader diajarkan hal-hal yang baik dan hidup dengan penuh kejujuran dan kesederhanaan.
Miris dan sedih membaca keluhan tsb, para ustad yang rata-rata diberikan pendidikan Agama sejak kecil sampai menimba ilmu ke negeri Nabi, tega-teganya menjerumuskan para kader dan menikmati penderitaan mereka. Saya yakin para ustad memahami yang mereka lakukan adalah pendzoliman anak-anak muda yang masih mudah diindoktrinasi dan dicuci otaknya agar mereka militan terhadap partai sang ustad.
Ketika pimpinan mereka ditangkap KPK, mereka ramai-ramai membela koleganya dengan cara membabi buta dan meninggalkan etika islam. Dengan gagahnya mereka mengatakan bahwa partainya didzolimi, difitnah dan direkayasa. Kenapa mereka tidak mengingatkan koleganya yang ditangkap agar melakukan tobatan nasuha, dengan mengembalikan seluruh harta haramnya kepada rakyat negeri ini.Wahai para ustad dan imam bacalah jeritan kader di ROL hari ini, tulisan yang dibuat dengan bahasa yang sangat santun tersebut, menunjukkan baiknya budi pekerti kader yang menuliskan gugatan tsb. Tetapi kebaikan budi pekertinya pastilah bukan hasil Liqoad, melainkan karena diberikan makan, minum dan pakaian yang halal oleh orangtuanya.
Prof. Dr. SM (mantan Ketua Ormas Islam) yang dipanggil buya menyamakan Koruptor adalah Garong, Dr. QS (ahli tafsir) menyebut Koruptor sebagai Gila, karena sudah tahu salah masih dilakukan dan Dr.S (ahli jiwa) menyatakan bahwa Koruptor adalah Psikopat, menikmati hidup diatas penderitaan orang lain.
Mudah-mudahan para ustad dan imam tersebut segera kembali ke ajaran Islam yang baik dan benar, kalau mau kaya bekerja saja dengan tekun dan keras atau berdagang sesuai ajaran Islam.