Luar Biasa para eksekutor preman di LP Cebongan dengan jiwa ksatria mengakui dan siap bertanggung jawab, demikian pula para komandannya. Hal ini diutarakan oleh Presiden SBY di depan para pimpinan redaksi. Saya berdoa semoga para eksekutor diampuni dosanya dan keluarganya di berikan kekuatan menghadapi masalah tsb. Namun sebagai warga negara Indonesia, saya ingin mengucapkan terima kasih pada mereka, karena yang namanya preman pastilah meresahkan masyarakat. Belum pernah ada cerita preman itu "bermanfaat".
Lantas kapan para pemimpin negeri ini bisa meneladani sikap kesatria mereka. Lihat saja bagaimana para pemimpin negeri ini dengan bangga mengingkari janji kampanye, tidak mau bertanggung jawab terhadap perilaku korup mereka yang saat ini justru dibudidayakan (udang enak kalau dibudidayakan, kalau perilaku korup, ya rakyat mati kelaparan).
Para prajurit rendahan yang memiliki pola hidup "sangat sederhana" tsb, memiliki "jiwa yang mewah" karena mereka dengan cepat membasmi "virus penyakit" masyarakat, dan dengan kesatria mereka mengakui perbuatannya yang salah, dan siap mempertanggung-jawabkan. Bandingkan dengan perilaku Menteri, Pimpinan Parpol, Anggota DPR, Polisi, Jaksa, dan Hakim Yang Korup, mereka yang memiliki pola hidup penuh kemewahan, namun hatinya "busuk dan pengecut" karena mereka tidak berani mengakui dan mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Normalnya para koleganya yang masih jujur, berani mengingatkan perilaku para koruptor tsb. Namun kenyataannya mereka sama-sama penakut.
Heran kenapa para elit dan LSM masih saja mencaci para eksekutor preman bahkan intitusi mereka (Kopassus) juga didiskreditkan. Kenapa para komentator itu tidak berani melawan para koruptor yang sudah terbukti menyengsarakan rakyat kecil, bukankah itu juga pelanggaran HAM yang lebih kronis. Dan para koruptor itu ada di depan hidung mereka masing-masing. Yang lebih memalukan adalah kelakuan Komnas HAM, mereka yang selalu ribut "rebutan" jabatan, gembar-gembor bahwa mereka akan tetap mengusut Kasus LP Cebongan. Harusnya mereka berpihak pada rakyat dan bukan pada preman. Tanyalah kepada masyarakat Jogyakarta, apa tanggapan mereka terhadap pelaksanaan eksekusi para preman tsb?. Lihatlah spanduk-spanduk yang saat ini bertebaran di Jogya, bagaimana masyarakat Jogya bersuka cita terhadap pembasmian preman. Salah satu spanduk yang saya kutip berbunyi "Sejuta Preman Mati, Masyarakat Bersuka Cita"
Nah kalau ingin tidak ada lagi anggota Kopassus yang mengeksekusi para Preman, ya tegakkan saja hukum yang berlaku. Mudah kok, Presiden tinggal memerintahkan Kapolri agar para preman "dibasmi", supaya masyarakat dapat hidup tenang. Presiden juga harus memerintahkan Jaksa Agung dan Menkumham, agar menegakkan hukum dengan baik dan benar. Masalahnya apakah perintah Presiden SBY akan dipatuhi dan dijalankan bawahannya dengan konsisten?
Anggota Kopassus selaku eksekutor memang melanggar hukum, namun mereka BERANI mengakui dan SIAP mempertanggung-jawabkan, sementara apa yang mereka lakukan membuat masyarkat hidup aman dan tenang, jadi apa salahnya mereka.............
Saya simpati pada mereka (anggota Kopassus), dan saya paling benci melihat para koruptor di negeri ini, jelas-jelas melanggar HAM namun justru di puji-puji...... "dasar zaman edan, nek ora edan ora komanan". Hidup Kopassus................